PENELITIAN SANAD HADIS ABU HURAIRAH


A.    Takhrīj Hadis
            Secara etimologi kata takhrij berasal dari kharaja, yakhruju, yang mempunyai beberapa arti; (1) al-istinbāth (mengeluarkan); (2) al-tadrīb (melatih atau membiasakan) (3) al-tawjīh (memperhadapkan). Menurut Dr. Mahmud Thahhan kata takhrīj menurut bahasa ialah “berkumpulnya dua perkara yang berlawanan dalam satu persoalan”.
Menurut Istilah, kata takhrīj mempunyai beberapa pengertian, yaitu:
1.      Mengemukakan Hadits kepada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam rangkaian sanad yang telah menyampaikan hadits itu.
2.      Ulama hadits mengeluarkan berbagai hadits yang telah dikemukakan oleh para guru hadis, atau berbagai kitab atau lainnya, yag susunannya dikemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri, atau para gurunya atau temannya atau orang lain, dengan menerangkan siapa periwayatnya dari para penyusun kitab atau karya tulis yang dijadikan sumber pangambilan.
3.      Menunjukkan asal-usul hadis dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang disusun oleh mukharrijnya.4.      Mengemukakan hadis berdasarkan sumber pengambilannya yang di dalamnya disertakan metode periwayatan dan sanadnya masing-masing dengan menjelaskan keadaan perawi dan kualitas haditsnya.
5.      Menunjukkan letak asal hadis pada sumber aslinya, yang di dalamnya dikemukakan hadis itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing.[1]            Dengan demikian pengertian takhrīj hadis yang dimaksud di sini adalah pengertian takhrīj hadits yang kelima, yaitu penelusuran atau pencarian hadis dari berbagai sumbernya yang asli dengan mengemukakan matan serta sanadnya secara lengkap untuk kemudian diteliti kualitas haditsnya. Dengan kata lain, tujuan melakukan takhrīj hadis adalah menunjukkan sumber hadits dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadits tersebut.[2]

B.      Redaksi-radaksi Hadis
            Menelusuri hadis sampai kepada sumber asalnya tidak semudah menelusuri ayat al-Qur’an. Untuk menelusuri ayat al-Qur’an, cukup diperlukan sebuah kitab kamus al-Qur’an, misalnya al-Mu’jam al-Mufahras li Alfāẓi al-Qur’an al-Karīm susunan Muhammad Fu’ad  ‘Abd al-Bāqi, dan sebuah kitab rujukan berupa mushaf al-Qur’an. Untuk menelusuri hadis tidak cukup hanya menggunaakan sebuah kamus dan sebuah kitab rujukan berupa kitab hadis yang disusun oleh mukharrijnya. Yang menyebabkan hadis begitu sulit untuk ditelusuri sampai sumber asalnya karena hadis terhimpun dalam banyak kitab.[3] Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan teknologi yang canggih, saat ini banyak dibuat alat pencarian hadis untuk memudahkan menemukan hadis yang diperlukan secara cepat, di antaranya adalah dengan menggunakan al-Maktabah al-Syamīlah.
            Dalam mencari hadis tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan ini, penulis menggunakan metode takhrīj al-hadits bi al-fāāẓ melalui kata ( عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَة) dengan menggunakan teknologi pencarian al-Maktabah al-Syamīlah yang merupakan kumpulan-kumpulan kitab dan mencocokkannya di dalam Kutub al-Sittah dan kitab-kitab hadis lain. Setelah melakukan penelusuran melalui sumber di atas, maka penulis menemukan beberapa teks hadis tentang terpecahnya umat islam menjadi 73 golongan yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah di antaranya adalah terdapat di dalam Sunan Abū Dāud, Sunan al-Tirmīżi, dan Sunan Ibnu Mājah. Penulis juga melacak hadis tersebut pada kitab lainnya dan menemukannya dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Mustadrak al-Hākim, Sahih Ibnu Hibbān, Sunan al-Kubra li al-Baihaqī, dan al-Ibānah al-Kubrā li Ibnu Baṭṭah.
            Adapun redaksi hadis-hadis tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Abu Daud, kitab al-Sunnah, Bab Syarh al-Sunnah, No: 4596[4].
حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ ، عَنْ خَالِدٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.
            Artinya: Telah menceritakan kepada kami Wahab bin Baqīyah, dari Khālid, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abū Hurairah ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

2.  Sunan al-Tirmīdżi, Bab Mā jā’a fī Iftirāqi al-Ummah , No: 2640[5]
حَدَّثَنَا الحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ أَبُو عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ    رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَفَرَّقَتِ اليَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ أَوْ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَلِكَ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.
              Artinya: Telah menceritakan kepada kami Husain bin Huraiṡ Abū ‘Ammār, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Faḍlu bin Mūsā, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

3.  Sunan Ibnu Majah, kitab Al-Fitan, bab Iftiraq al-Umam, No.3991.[6]
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، حَدَّثَنَا مُحْمَّدُ بْنُ بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : تَفَرَّقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, telah  menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr, dari Abi Salamah, Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

4.  Ahmad bin Hanbal, bab Musnad Abū Hurairah, No. 8396.[7]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ , حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو , حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَفَرَّقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى ، أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفَرَّقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.
Artinya :Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, telah  menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr, dari Abū Salamah, dari Abu Hurairah  ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.
5. Hākim
a.  Mustadrak al-Hākim, No: 441[8]
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَمَةَ الْعَنَزِيُّ ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ ، وَوَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ الْوَاسِطِيَّانِ ، قَالاَ : حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً .
            Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Salamah al-‘Anaziy, telah menceritakan kepada kami Uṡman bin Sa’id al-Dārimī, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Aūn dan Wahab bin Baqiyah al-Wāsiṭiyyān, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Abdullah, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

b.  Mustadrak al-Hakim, No: 442.[9]
  أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ قَاسِمُ بْنُ قَاسِمٍ السَّيَّارِيُّ بِمَرْوَ ، حَدَّثَنَا أَبُو الْمُوَجَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو الْفَزَارِيُّ ، حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى ، حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو ، حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَفَرَّقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَالنَّصَارَى مِثْلُ ذَلِكَ ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
              Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abū al-‘Abbās Qāsim bin Qāsim al-Sayyāriy bimarwa, telah menceritakan kepada kami Abū al-Muwajjah Muhammad bin ‘Amr al-Fazārī, telah menceritkan kepada kami Yūsuf bin ‘Isā, telah menceritakan kepada kami Al-Faḍlu bin Mūsā, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah seperti itu, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.
6. Sahih Ibnu Hibbān, bab Badai al-Khalqi, No: 6427.[10]
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى ، حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ سُرَيْجٍ النَّقَّالُ ، أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.
            Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Ali bin al-Muṡanna, telah menceritakan kepada kami al-Hariṡ bin Suraij al-Naqqal, telah mengabarkan kepada kami Al-Naḍr bin Syumail, dari Muhammad bin ‘Amr. dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.
7.Baihaqi, kitab jama’u abwab man tajūzu syahadatuhū wa man la tajūzu, bab mā turaddu bihi syahādatu ahli al-ahwā, No: 2149.[11]
وَقَدْ أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِىٍّ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الرُّوذْبَارِىُّ فِى كِتَابِ السُّنَنِ أَنْبَأَنَا أَبُو بَكْرٍ : مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِى سَلَمَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.
            Artinya: Dan sungguh telah mengabarkan kepada kami Abū al-Husain bin Muhammad al-Raudzabāżriy dalam kitab al-Sunan, telah memberitakan kepada kami Abuu Bakar: Muhammad bin Bakr, telah menceritakan kepada kami Abuu Daaud, telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyah, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.
            8. Ibnu Baṭṭah, bab żikru iftirāq al-umam, No: 237.[12]
حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«تَفْتَرِقُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى عَلَى إِحْدَى وَاثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.
Artinya: Telah menceritakanlah kepada kami Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Zaid dia berkata: Telah menceritakanlah kepada kami Al-Hasan bin ‘Arafah dia berkata: Telah menceritakanlah kepada kami Al-Muhaaribiy dia berkata: Telah menceritakanlah kepada kami Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Kaum Yahudi dan Nasrani terpecah menjadi 71 dan 72 golongan, dan ummatku terpecah menjadi 73 golongan.
            Setelah melakukan takhrīj hadis, penulis tidak hanya menemukan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah, tetapi juga dari sahabat lain yaitu dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ‘Auf bin Malik ra dengan lafal yang berbeda namun semakna. Penulis juga menemukan hadis yang berbeda dengan hadis Abu Hurairah yakni hadisnya sahabat Anas bin Mālik dengan perpecahan umat menjadi 72 golongan dan hadisnya ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ᾱṣ dengan tambahan redaksi yang berbeda.
Adapun teks-teks hadis tersebut sebagai berikut:
1.      Hadis 73 golongan riwayat Mu’awiyah bin Abī Sufyan:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ ح وَحَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ حَدَّثَنِى صَفْوَانُ نَحْوَهُ قَالَ حَدَّثَنِى أَزْهَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَرَازِىُّ عَنْ أَبِى عَامِرٍ الْهَوْزَنِىِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِى سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلاَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَامَ فِينَا فَقَالَ « أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ.
Artinya: Telah menceritakanlah kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya keduanya berkata: Telah mencaritakan kepada kami Abu a-Mugirah telah menceritakanlah kepada kami Shafwan, dan telah menceritakanlah kepada kami ‘Amr bin Utsman telah menceritakanlah kepada kami Baqiyah dia berkata, telah menceritakanlah kepadaku Safwan seperti itu, ia berkata telah menceritakanlah kepadaku Azhar bin Abdullah al-Haraazi dan Abu ‘Amir al-Hauzani dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan sesungguhnya ia pernah berdiri di antara kami lalu ia berkata: Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah saw pernah berdiri di antara kami lalu beliau bersabda:  Ketahuilah, sesungguhnya ada orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab berpecah menjadi 72 millah, dan sesungguhnya millah ini akan terpecah menjadi 73 millah, 72 masuk neraka dan hanya satu yang masuk surga, dan itu adalah al-Jama’ah.
Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh:
Ø  Abū Dāud, al-Kutub al-Sittah, Kitab al-Sunnah,  Bab Syarhu al-Sunnah, No: 4597.[13]

2.      Hadis 73 golongan riwayat ‘Auf bin Mālik.
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارٍ الْحِمْصِيُّ ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ يُوسُفَ ، حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو ، عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ ، وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ ، وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ ، قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : الْجَمَاعَةُ.
Artinya: Dari ‘Auf bin Mālik, ia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu golongan masuk Surga dan yang 70 di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, yang 71 golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang  jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73  golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 golongan di Neraka. Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jamā’ah.’
Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh:
Ø  Ibnu Mājah, kitab Al-Fitan, bab Iftirāq al-Umam, nomor 3992, dan lafal hadis di atas menggunakan lafal ibnu majāh.[14]
Ø  Ibnu Abī ‘Ᾱshim, dalam kitab al-Sunnah I/32 no. 63.
Ø  Al-Lalikā-i, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqād Ahli al-Sunah wa al- Jamā’ah I/113 no. 149.

3.      Hadis 72 golongan riwayat Anas bin Mālik.
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ ، حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرٍو ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَإِنَّ أُمَّتِي سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، كُلُّهَا فِي النَّارِ ، إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ : الْجَمَاعَةُ.
Artinya: Telah menceritakanlah kepada kami Hisyam bin ‘Ammār, telah menceritakanlah kepada kami al-Walīd bin Muslim, telah menceritakanlah kepada kami Abū ‘Amr, telah menceritakanlah kepada kami Qatādah, dari Anas bin Mālik, dia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 72 golongan, semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan, yaitu Jamā’ah.
keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh:
Ø  Ibnu Mājah, kitab al-Fitan, bab iftirāq al-umam, nomor 3993, dan lafal hadis di atas menggunakan lafal Ibnu Majah.[15]
Ø  Ahmad bin Hanbal, di dalam musnad Musnad Anas bin Malik, nomor 12501[16], 12479[17],12507[18]
Ø  Musnad Abi Ya’lā,
Ø  Ibnu Baṭṭah, bab Dzikri Iftirāqi al-Umam, nomor 277[19]
4.      Hadis Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ᾱṣ
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِىُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادِ بْنِ أَنْعُمَ الإِفْرِيقِىِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِى مَا أَتَى عَلَى بَنِى إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِى أُمَّتِى مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِى إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى ».
Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullah saw  bersabda: Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi 72 millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi 73 millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang aku dan para Sahabatku berada di atasnya. Al-Tirmīżī berkata: “Ini merupakan hadis  penjelas yang garib, kami tidak mengetahuinya seperti ini, kecuali dari jalan ini.
Keterangan: Hadis ini diriwayatkan oleh:
Ø  1.Sunan al-Tirmīżī, Kitab al- Iman, bab Mā Jā’a Fiftirāqi Hāżihi al-Ummah no. 2641[20] ,
Perawi Hadits: Dalam sanad hadis ini ada seorang perawi yang lemah, yaitu ‘Abdurrahman bin Ziyād bin An’um al-Ifriqīy. Ia dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in, Imam Ahmad, an-Nasa-i dan selain mereka. Ibnu Hajar al-Asqalāni berkata: “Ia lemah hafalannya.” (Tahdzibut Tahdzib VI/157-160, Taqribut Tahdzib I/569 no. 3876.)
Saleh bin Muhammad al-Bagdādīy: Hadisnya Munkar, akan tetapi dia itu adalah lelaki yang Saleh.[21]
Al-Tirmīżī, Yahya al-Qaṭṭān, al-Nasa’i mendaifkannya.[22]
Abu bakar bin Khuzaimah: Dia tidak bisa diambil Hujjah.[23]
Ibnu Khirāsy: Matruk.[24]
Derajat Hadits
Imam al-Tirmīżī mengatakan bahwa hadits ini hasan, karena banyak syawahid-nya. Bukan beliau menguatkan perawi di atas, karena dalam bab Adzan beliau melemahkan perawi ini.
(Lihat Silsilatul Ahādits al-Shahīhah no. 1348 dan kitab Sahih Tirmīżī no. 2129.)
C.    I’tibār Hadis
            Setelah melakukan takhrīj hadis maka langkah selanjutnya yang sangat diperlukan dalam penelitian hadis adalah melakukan i’tibār untuk mengetahui keadaan keadaan sanad secara keseluruhan dilihat dari ada atau tidaknya pendukung pada periwayat yang berstatus sebagai syahid dan muttabi’. I’tibār sendiri  berasal dari kata al-i’tibār yang merupakan bentuk isim masdar dari kata i’tabara. Secara etimologis, al-I’tibār adalah “peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatu yang sejenis”. Adapun menurut istilah, al-i’tibār berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis tertentu, supaya dapat diketahui ada tidaknya periwayat yang lain untuk sanad hadis yang dimaksud. Hlm 67 pokja akademik
            Tujuan dilakukannya al-i’tibar adalah agar terlihat dengan jelas seluruh jalur yang diteliti, nama-nama periwayatnya, dan metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat yang bersangkutan. Hlm 67
            Jadi, kegunaan al-i’tibār adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadis seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung (corroboration) berupa periwayat yang berstatus mutabi’ atau syahid. Mutabik ialah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi, sedangkan syahid ialah periwayat yang berstatus pendukung untuk sahabat Nabi. Melalui i’tibār akan dapat diketahui apakah sanad hadis yang diteliti memiliki muttabi’ dan syahid ataukah tidak.[25]
            Dilihat dari skema dan redaksi hadis, dikatakan bahwa sahabat Nabi saw yang meriwayatkan hadis terpecahnya umat Nabi menjadi 73 golongan selain Abu Hurairah adalah Mu’awiyah bin AbīSufyān, ‘Auf bin Mālik, dan ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ᾱṣ. Dengan demikian hadis tersebut mempunyai banyak muttabi’ dan syawahid.


                [1] Sulaiman Noor PL, Antologi Ilmu Hadits, GP Pres, Jakarta, hlm. 155,
                [2] Dr.Suryadi, m.Ag, Drs. Agung Danarto, M.Ag, M. Al Fatih Suryadilaga, M.Ag, Metodologi Penelitian Hadis, Pokja Akademik,Yogyakarta, tahun 2006, h.34.
                [3] Syuhudi Ismail, Metode Penelitian Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 2007), hlm. 43.
                [4] Sulaiman bin al-Asy’aṡ bin al-Syaddād, Sunan Abu Daud (Beirut: Maktabah al-Rusyd, t.t.) hlm. 1701.
                [5] Abu ‘Īsa Muhammad bin ‘Īsa bin sūrah, Sunan al-Tirmīdżi ((Beirut: Maktabah al-Rusyd, t.t.) hlm. 595.
                [6] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Riyadh, Maktabah al-Maarif linnasyri wa al-Tauzi’), hlm. 659.
                [7] Abu ‘Abdillah al-Syaibaani, Musnad Ahmad bin Hanbal (Beirut: Muassasah al-Risaalah, 1955), Jilid II, hlm. 124.
                [8]Al-Hakim, Mustadrak al-Haakim (Mesir,  Daar al-Haramain li al-Thaba’ah wa al-nasyri aw al-Tauzii’, t.t.) jilid I, hlm. 206.
                [9] Ibid
                [10] Ibnu Hibban, Sahih Ibnu Hibbān (Beirut: Muassasah al-Risalah, t.t.), jilid XIV, hlm. 140.
                [11] Baihaqi, Sunan al-kubrā li al baihaqi (Beirut, Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.t.), jilid x, hlm. 351.
                [12]Ibnu Baṭṭāh, al-Ibānah al-kubrā li al-ibni baṭṭāh (Riyaḍ: Dār al-rāyah li al-nasyri wa al-tauzy, 1994), jilid I, hlm. 347.

[13] Abū Dāud, Sunan Abū Dāud (Riyadh:  Maktabah al-Maarif linnasyri wa al-Tauzi’), hlm. 1701.
[14] Ibnu Mājah, Sunan ibnu Majah, kitab Al-Fitan (Riyadh, Maktabah al-Maarif linnasyri wa al-Tauzi’),  hlm. 659.
                [15] Ibid,  hlm. 659.
                [16] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, (Kairo: Muassasah al-Risaalah), jilid 3, hlm. 145. (m.syamilah)
                [17] Ibid, jilid 19, hlm. 462
                [18] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, (Beirut: ‘Alim al-Kutub, 1998) jilid 3, hlm. 145. (m.syamilah)
                [19] Ibnu Baththah, Al-Ibaanah al-kubra li Ibni Baththah, (Riyadh: Daar al-Raayah li al-Nasyri wa al- Tauzii’, 1994), jilid 1, hlm. 377. (m.syamilah)
                [20] Abū ‘Īsa Muhammad bin ‘Īsa bin sūrah, Sunan al-Tirmidzi, (Riyadh: Maktabah al-Maarif linnasyri wa al-Tauzi’) hlm. 595-596.
                [21] Jamaluddin Abi al-Hajjaaj Yusuf al-Maziy, Tahdzib al-Kamal fii Asma’I al-Rijaal, (Beirut: Muassasah al-Risaalah, cet. Ke 2, 1983), jilid 17, hlm. 107.
                [22] Ibid, hlm. 108.
                [23] Ibid
                [24] Ibid
                [25] M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 51-52.

posted under |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Blogger Tricks

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Search

Featured Posts Coolbthemes

Blogger templates

About Me

Foto Saya
el-fatihkamil
Mau makan untuk hidup atau hidup untuk makan aku tak peduli....yang jelas saya tidak makan orang.hehehehe^_^
Lihat profil lengkapku

Followers

Text Widget


Recent Comments