Pengalaman Tugas Muballiq Hijrah di Kulon Progo ( Kendala-Kendala dan Solusinya)


Bismillahi al-rahman al-rahim
Sebagai organisasi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, Muhammadiyah mempunyai banyak kegiatan-kegiatan dan program untuk mewujudkan cita-citanya yaitu membentuk masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Program Muballiq Hijrah merupakan salah satu contoh programnya dan program ini harus dijalani oleh para kader perserikatan khususnya yang kuliah di PUTM dan bisa dikatakan sebagai program tahunan yang wajib diikuti. Dengan melihat kondisi masyarakat yang masih kurang pemahaman agamanya, maka MH dipandang sangat penting peranannya bagi perkembangan keislaman bagi masyarakat terutama yang tinggal di daerah pedesaan karena masih terbatasnya informasi tentang keagamaan dan kurangnya muballig. Setiap tahun tepatnya di bulan Ramadhan, Muhammadiyah mengirim kader-kader PUTM ke berbagai kabupaten di Yogyakarta atas permintaan masyarakat. Kader-kader yang dikirim itu diharapkan mempunyai andil dalam memajukan dakwah di daerah tersebut dan saya termasuk salah satu kader yang dikirim itu.

Tugas MH merupakan hal yang masih sangat baru bagi saya, meskipun basic saya sebenarnya dari pondok pesantren tapi tugas dakwah yang pernah saya jalani belum ada yang seperti MH yang mesti tinggal di suatu tempat dalam waktu tertentu (maksimal 25 hari) dan penempatannya sendiri-sendiri bukan rombongan seperti halnya Safari Ramadhan atau KKN. Tempat MH pertama kali saya adalah di daerah Gunung Kelir Kabupaten Kulon Progo, suatu daerah perbukitan hijau yang sejuk yang berbatasan langsung dengan Purworejo. Sebagai tugas MH pertama, tentu saya menghadapi banyak kendala-kendala terutama dari diri pribadi misalnya masih kurangnya pemahaman agama terutama yang sesuai dengan spirit dakwah Muhammadiyah, minimnya pengalaman, dan ditambah lagi keberadaan saya di jogja masih baru yaitu kurang lebih 2 bulan lamanya (waktu itu) tapi langsung diterjungkan ke masyarakat. Pada awalnya saya sempat protes, kenapa pengurus Muhammadiyah berani mengambil resiko dengan mengirim muballiq-muballiq yang masih minim pengalaman ke tengah-tengah masyarakat, bukankah itu malah menjadi boomerang karena menampakkan kelemahan Muhammadiyah sendiri dalam urusan dakwah jika muballiq yang dikirim itu tidak seperti yang diharapkan. Ternyata alasannya adalah karena banyaknya permintaan masyarakat yang tidak ditunjang dengan banyaknya muballiq sehingga muballiq yang kurang pengalaman pun diberi tugas dan hal itu tidak bisa diganggu gugat lagi karena pengurus juga sudah menyetujui permintaan tersebut. Oleh karena itu tidak heran kalau dalam tugas tersebut saya mendapatkan banyak sekali kendala-kendala, sehingga pernah terbesit dalam hati keinginan untuk pulang dan menyerah saja, tetapi dengan berbagai pertimbangan, keinginan itu berusaha saya hilangkan dan mengannggap ini sebagai ujian dakwah yang harus saya jalani sampai selesai. Saya hilangkan semua pikiran-pikiran yang bisa melemahkan tekad saya dan menjalani tugas ini semampu saya, baik ataupun buruknya itu urusan nanti (sikat dulu…urusan belakangan).
Setelah beberapa hari ternyata perasaan-perasaan negative itu akhirnya hilang juga dengan sendirinya. Di sini baru saya yaqin bahwa tantangan apapun yang kita hadapi asalkan kita tanamkan keyakinan dalam diri kita bahwa kita bisa dan ditambah doa maka pertolongan itu akan datang. Setiap ada kendala maka insya allah  kemudahan itu juga akan menyusul kemudian. Sesuatu yang sulit pun kalau itu dikerjakan berkali-kali dan kita terbiasa dengan hal itu akan menjadi mudah dan sebaliknya sesuatu yang mudah kalau jarang dilakukan akan mendatangkan kesulitan. Berangkat dari tulisan di atas, maka saya ingin sedikit menceritakan beberapa kendala-kendala yang saya alami langsung yang ada kaitannya dengan gangguan komunikasi beserta solusi yang saya gunakan saat itu.

A.    Kendala BAHASA

1.      Ketika Kultum dan Pengajian (Jama’ahnya anak-anak sampai orang dewasa)
Ini merupakan masalah yang umum terjadi terutama bagi muballiq yang berasal dari luar Jawa seperti saya yang saat itu bahasa Indonesianya saja masih memakai logat Celebes (Sulawesi) apalagi bahasa Jawa yang masih asing ditelinga saya. Hal itu sangat terasa ketika saya membawakan kultum, baik kultum Subuh maupun Tarwih apalagi jama’ahnya banyak yang sudah tua yang lebih terbiasa mendengar kultum berbahasa Jawa daripada bahasa Indonesia dengan aksen Makassar. Mereka juga senang jika dalam kultumnya itu diselingi dengan hal-hal yang lucu.
Solusinya: Saya menyadari bahwa tidak mungkin dalam waktu yang relatif singkat bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar, maka saya memperbaiki bahasa Indonesia dengan mencari perbendaharaan kata-kata yang mudah dan juga pembahasan mudah, singkat, dan  tidak bertele-tele karena di antara jama’ah ada yang Muallaf. Kultum saya lebih banyak berisi motivasi-motivasi ber-Islam dan berusaha tidak menyinggung masalah Fiqh dan gurauan (lucu-lucuan) karena saya sadar kekurangan saya pada saat itu, takutnya nanti melucu tapi jamaahnya tetap serius. Alhamdulillah, setelah beberapa hari bertugas akhirnya malaikat penolong pun datang yakni seorang mahasiswa UMY lulusan Ma’had Ali yang bisa dikatakan sangat berpengalaman dalam hal dakwah sehingga saya punya teman untuk sharing dan meminta masukan-masukan atas kekurangan yang saya miliki. Jadwal kultum yang sebelumnya itu setiap harinya saya dapat satu kali akhirnya bisa dibagi dan jatah kultum saya menjadi dua hari sekali.


2.      Mengajar TPA (jama’ahnya anak SD dan SMP)
Kendala yang dihadapi adalah anak-anak yang tidak semuanya penurut. Namanya juga dunia anak-anak pasti kerjanya banyak main dan tak jarang ada juga yang bertengkar sampai menangis. Disamping itu sebelumnya saya belum pernah mengajari anak TPA, tapi kalau mengajari keponakan di rumah pernah.
Solusinya: Setelah meminta masukan dengan partner MH maka solusi pertama adalah kuncinya sabar, kemudian berusaha memperbanyak berintraksi dengan mereka seperti membawakan cerita-cerita anak  dengan bahasa mudah dipahami mereka, dengan nada lembut dll. Ketika menegur pun harus dengan bahasa yang lembut yang terkadang diselingi dengan pujian-pujian.

Cerita lucu: Di Makassar panggilan mas itu sebutan kepada orang Jawa atau Sunda baik yang tua maupun yang mudah dan itu sudah hal lumrah di sana. Berangkat dari kabiasaan itu, di tempat tugas saya pun menerapkan perinsip sebutan tersebut ketika memanggil tuan rumah baik si Ibu maupun si Bapak hal itu didukung ketika saya mendengar tetangga memanggil Istri Pak Takmir (kebetulan tempat tugas saya seorang takmir) dengan sebutan mbak dan si istri memanggil suaminya dengan sebutan mas, walhasil si ibu saya panggil mbak dan pak takmir saya panggil mas (hehehe). Tapi herannya mereka sama sekali tidak mengur saya karena kebiasaan orang jawa mungkin yang selalu menjaga perasaan orang lain. Saya baru tahu kalau panggilan itu salah ketika seorang teman (Feri Efendi) kebetulan berkunjung ke tempat tugas saya dan mendengar langsung ketika saya memanggil pak takmir dengan sebutan mas. Ia menceritakan kalau ia deg-degan mendengar panggilan mas dari mulut saya tadi dan langsung menegur saya setelah pak takmir pergi dan saya pun kaget bercampur tawa. Kaget karena baru menyadari kalau itu tidak sopan dan ketawa karena selama ini didiamkan saja dan tidak ada yang menegur (mereka tidak menegur, mungkin pede dengan panggilan itu karena kita mereka masih muda…hehehe)
B.     Komunikasi Jarak Jauh
            Ini juga termasuk kendala di tempat tugas, karena daerahnya pegunungan dan jauh dari kota walhasil sinyal di sana terbatas.
Solusinya: Mencari posisi yang strategis yang banyak sinyalnya. Jadi kalau mau menelpon keluarga harus berjalan kira- sepuluh meter ke tempat yang banyak sinyalnya.


posted under |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Blogger Tricks

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Search

Featured Posts Coolbthemes

Blogger templates

About Me

Foto Saya
el-fatihkamil
Mau makan untuk hidup atau hidup untuk makan aku tak peduli....yang jelas saya tidak makan orang.hehehehe^_^
Lihat profil lengkapku

Followers

Text Widget


Recent Comments